KISAH PERJUANGAN ANAK SD

Monday, December 15, 2014

Budaya Pendidikan di Indonesia


Sungguh ketika telinga kita mendengar kata-kata ujian nasional, maka yang pertama kali muncul di benak kita adalah les privat, menyiasati rumus-rumus yang panjang, try out, menyontek, mencuri dan menggondol soal Unas, bocoran soal Unas, polisi, lulus-tidak lulus dan kisruh.
Semua yang tersebut diatas adalah gambaran-gambaran pendidikan kita. Gambaran-ganbaran out put generasi bangsa kita, bangsa Indonesia. Dikuatkan lagi dengan beberapa kericuhan yang terjadi pada waktu pra Unas maupun pada hari pelaksanaan Unas tingkat SMU tahun 2007 ini. Diantaranya, pencurian soal Unas oleh Kasek beserta rekan-rekannya, yang kesemuanya dari SMK PGRI 4 Ngawi (Surya, 21/4). Insiden tersebut semakin memperkeruh citra pendidikan kita. Bagaimana tidak, guru dan Kepala Sekolah yang seharusnya menjadi teladan dan panutan siswa, merencanakan dan melakukan pencurian soal Unas secara bersama-sama yang dimaksudkan untuk mengentaskan ketidaklulusan siswa.dan mengangkat nama baik sekolahnya tanpa dibarengi dengan esensi yang baik.
Pada kasus yang lain, pengroyokan oleh para siswa SMA 2 pasca Unas pada pengawasnya Sri Handayani dari SMA 1 Tanggul Jember (Jawa pos, 19/4). Kejadian ini dilatar belakangi oleh ketatnya penjagaan Unas oleh pengawas. Keketatan ekstra dalam pengawasan Unas ini memunculkan kekesalan siswa yang membuat mereka mengamuk dan memecahi kaca.
Sebenarnya yang dilakukan oleh Sri Handayani salah satu pengawas, sangat baik. Karena ia menjalankan tugas sesuai prosedur termasuk cara pembagian soal, absensi peserta Unas dan pengawasan yang sportif. Akan tetapi, dibalik kedisiplinan itu tidak dilandasi dengan jiwa yang ikhlas, melainkan karena persaingan ketat antara SMA 1 dan SMA 2 Tanggul sehingga guru SMA 1 mengawasi SMA 2 dengan berlebihan (Surya, 20/4). Bukan dari nurani seorang guru yang mencerdaskan, tapi malah melemahkan. Dan mungkin masih banyak kericuhan-kericuhan yang belum tercover dalam media.
Lantas yang menjadi tanda tanya besar bagi kita adalah “Apa yang salah?” sehingga setiap pelaksanaan Unas selalu ada catatan hitam kecurangan dan kericuhan di dalamnya. Jika kita analisa setidak-tidaknya terdapat empat penyebab ketidakberesan dalam menyambut dan pelaksanaan serta pasca Unas ini yang kesemuanya bersumber dari budaya kita sendiri.
Pertama, kurangnya kita dalam menghargai sebuah proses. Dengan maraknya les privat menyebabkan para siswa lebih menanggungkan pelajarannya pada les tersebut. Sehingga mereka sering menyepelekan proses belajar di sekolah selama tiga tahun. Tak jarang juga para guru privat mengajarkan pada siswa penyiasata rumus-rumus yang panjang hingga menjadi pendek dan mudah tanpa mengajarkan alur rumus sebenarnya. Hal ini menjadikan siswa lebih senang mengerjakan sesuatu dengan instan tanpa berusaha dan berkerja keras yang berpengaruh pada masa dewasa kelak. Dan yang lebih parah lagi metode kebut Unas ini menjadikan ilmu yang ada pada siswa tidak akan bertahan lama, alias mudah lupa. Sedangkan bencana penuntut ilmu adalah lupa.
Kedua, kita lebih bangga dengan style dan gengsi daripada skill. Dengan adanya kasus-kasus pencurian dan pembocoran soal Unas yang dimaksudkan untuk meluluskan para peserta didik sehingga sekolah tersebut menjadi ternama dan terkenal dengan kualitasnya tanpa ada feedback yang bagus dalam esensinya, maka sekolah tersebut tak beda dengan tong kosong. Dengan kata lain, terjadai pembodohan pada siswa, wali murid, serta birokrasi sekolah oleh nama sekolah yang mencuat tinggi.
Ketiga, kita selalu tidak mau mengakui kelemahan dan kekurangan kita.Salahsatu tujuan diadakannya ujian bagi para siswa adalah sebagai ukuran dari apa yang sudah dikuasai, dan apa yang belum dikuasai dari pelajaran yang mereka dapatkan. Akan tetapi, pada kenyataannya dalam ujian pasti ada kecurangan-kecurangan untuk memberi persepsi pada orang lain bahwa mereka pandai. Tidak mngakui kekurangan yang ada pada diri mereka sangat penting sekali untuk berinstropeksi diri, guna membangun masa depan cerah. Kelemahan-kelemahan kita saja tidak tahu dan tidak mau tahu, bagaimana kita akan melangkah kedepan yang penuh dengan halangan merintang?.
Keempat, masih lemahnya pendidikan kita. Meski standarisasi nilai ujian nasional masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan Negara-negara lain tapi masih saja ada kecurangan untuk mencapai standarisasi tersebut.
Keempat kebudayaan buruk kita diatas adalah sumber pemicu kerusuhan-kerusuhan yang terjadi dikalangan civitas akademik seluruh lembaga-lembaga pendidikan. Entah itu pada tingkat sekolah maupun universitas.Bahkan ujian dalam calon PNS juga tak kalah ricuhnya dengan ujian nasional pada sekolah-sekolah. Kita jadi teringat kasus pembunuhan adik kakak (junior-senior) dikampus IPDN jatinagor Sumedang beberapa minggu lalu. Bahwa sudah nyata bukti kekerasan hukum rimba dalam kampus tersebut, tapi tak satupun mahasiswa (praja) maupun pihak birokrat yang mengakuinya, melainkan selainkan seorang dosen Inu Kencana. Hal ini merupakan kemunafikan yang absurd dan yang lebih disayangkan lagi mereka adalah calon pemimpin kita.
Memerangi biang kerok kericuan Unas sama dengan memerangi budaya kita sendiri. Kebudayaan yang sudah mendarah daging ditubuh kita, memerlukan usaha yang keras dan waktu yang cukup lama untuk merubahnya. Tak semudah membalikkan telapak tangan.
Betapapun sulit merubah kebudayaan, tapi setidaknya kita bisa menekannya hingga seminimal mungkin, misalnya dengan undang-undang tertentu yang cukup memberatkan tapi lumayan menyembuhkan. Dengan sanksi-sanksi yang berat, contoh barang siapa yang berusaha merusak kerahasiaan soal unas maka ia dipenjara bukan hanya lima tahun tapi 10 tahun penjara. Begitu juga dengan siswa yang ketahuan mencontek meski satu nomer, maka ia dinyatakan tidak lulus unas. Bila perlu kita kerahkan pihak militer dengan ketegasan dengan ketegasan dan disiplin mereka dalam pelaksanaan Unas tanpa ikut campur pihak sekolah.
Meski agak ekstrim tapi ini demi generasi bangsa kita dan demi visi dan misi kita bersama. Yang pasti unas harus tetap berlanjut untuk menstandarisasikan kemampuan-kemampuan para calon pembawa bangsa kita.

ttp://ibnuhasanhasibuan.wordpress.com/budaya-pendidikan-di-negara-kita/

Sunday, December 14, 2014

5 Pelajar SMP Datangi Rumah Transisi Curhat Penerapan Kurikulum

Liputan6.com, Jakarta - 5 Pelajar berseragam SMP ditemani oleh seorang guru mendatangi Rumah Transisi. Kedatangan mereka sejak pukul 08.00 WIB ingin curhat mengenai masalah dalam Kurikulum 2013.

Namun, tak ada petinggi di Rumah Transisi yang menemui mereka, hanya ada beberapa personel Paspampres yang terlihat mengamankan lokasi.


Pelajar dan guru tersebut berasal dari SMPN 252 Duren Sawit, Jakarta Timur. Guru matematika dari sekolah tersebut, Harder Sinaga menuturkan anak didiknya yang diajak ke Rumah Transisi adalah pelajar kelas 8 yang mendapatkan Kurikulum 2013 secara mendadak.

 "Persoalannya mereka kelas 8, tahun lalu nggak dapat Kurikulum 2013. Tapi di tengah jalan dapat Kurikulum 2013. Di Jakarta hanya 31 sekolah yang ditunjuk, tapi tiba-tiba semua kelas 8 jadi Kurikulum 2013 semua, padahal SMP 252 nggak termasuk," ujar Harder di Rumah Transisi, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta, Selasa (26/8/2014).

Dia mengungkapkan, sekolahnya tidak menolak implementasi Kurikulum 2013. Namun seharusnya implementasi dilakukan bertahap. Apalagi para pelajar juga tidak ditunjang dengan buku-buku Kurikulum 2013. Begitu juga dengan janji pemerintah menyediakan sarana buku pada 15 Agustus lalu, tapi belum ada buktinya.

 Harder mengaku sudah berbicara dengan pihak kementerian terkait, tapi tak digubris. "Kan saat liburan guru-guru ada penataran implementasi kurikulum. Guru Disdik yang ngajar kita bilang ini keputusan menteri yang harus dijalankan," tutur Harder.

 Tentang kedatangannya ke Rumah Transisi diakui sebagai inisiatif pribadi. Bahkan Harder mengaku mengajak beberapa pelajar yang mau dan tanpa sepengetahuan pihak sekolah.

"Salah seorang pelajar, Aliyah Rifdah menuturkan setiap hari proses belajar mengajar masih menggunakan buku KTSP 2006. Karena itu ia pun ingin meminta kejelasan.

"Kalau bisa Pak Jokowi kasih kita gimana gitu, kasih kepastian dong. Belajarnya pakai yang mana," cetus Aliyah.


Aliyah menyampaikan pula kalau kedatangannya tidak menyita waktu belajar, apalagi bolos. Ia baru masuk sekolah siang hari. "Kita masuk siang, kalau nggak ada orang, ya sudah kita ke sekolah," tandas Aliyah. (Sss)


Kilas Pendidikan Indonesia




Pasca revolusi 1945 di mana pertama kali berdirinya republik indonesia keberhasilan gerakan rakyat merebut “kemerdekaan” dari gengaman kolonialisme. Pada era Orde Lama sistem pendidikan di Indonesia mengalami proses perkembangan yang baik, mulai dari kurikulum, pengajar, hinga metode belajar – mengajar. Adanya partisipasi peserta didik dalam kancah perpolitikan dapat dibuktikan dengan adanya Dewan Mahasiswa sehingga saat itu peserta didik menjadi subyek bukan objek dalam menjalankan keberlangsungan pendidikan di indonesia. Kualitas pendidikan pada era Orde Lama menunjukan bahwa sistem pendidikan mampu merangsang daya kritis dan kreatifitas peserta didik hingga dapat membuat terobosan solusi atas persoalan rakyat.

Jatuhnya kekuasaan Orde Lama menyebabkan  kehancuran gerakan rakyat berdirilah kekuasaan Orde Baru Soeharto. Sistem pendidikan di indonesia berputar balik 360 derajat. Peserta didik dibentuk sedemikian rupa dijadikan objek demi ambisi kapitalisme. Sejak saat itulah pembangunan jati diri rakyat tergadaikan dengan pembukaan investasi besar – besaran oleh rezim Orba. Peserta didik disiapkan menjadi budak kapitalisme yang patuh pada investor. Tidak bisa dipungkiri lagi peserta didik kehilangan daya kritis dan kreativitas.

Pendidikan tak ubahnya seperti kebun binatang.  Peserta didik disuapin makan tapi tak diajarkan bagaimana membagi makanan. Kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan pasar, sejarah diputar - balikan, kebijakan NKK – BKK, pelarangan  buku, jadwal kuliah yang padat, hingga metode pengajaran dosen dalam kelas yang sangat monoton.  Dampaknya adalah hilangnya daya kritis mahasiswa minsalnya saja contoh kongkrit yang hingga sekarang terjadi ketika mahasiswa memberi pertanyaan  sedikt kritis terhadap dosen, biasanya di jawab dengan "pertanyaan anda bukan wewenang saya untuk menjawabnya"

Sistem Pendidikan Indonesia Saat ini.
Tak bisa dipungkiri ketika pendidikan menjadi kritis, mahasiswa berorganisasi dan membangun solidaritas terhadap persoalan rakyat. Maka sudah pasti pemerintah agen kapitalisme akan kelabakan. Kenaikan  harga BBM, kenaikan harga sembako, maraknya perampasan tanah, kasus"agraria, masalah perburuhan hingga mahalnya biaya pendidikan. Persoalan tersebut tidak akan diperbincangkan dalam ranah kelas di kampus.Mahasiswa hanya diajarkan teori kolot yang tidak beririsan dari realitas masyarakat. Alhasil mahasiswa menjadi menara gading dalam tatanan kehidupan masyarakat. Ijazah, lulus cepat mendapat pekerjaan itulah yang ada di kepala mahasiswa saat ini. Hasilnya adalah mahasiswa yang berwatak apatis, individualis dan hedonis.
kita bisa melihat elit politiknya yang sibuk korupsi dan rajin mencanangkan regulasi yang menyengsarakan rakyat. Pertanyaan adalah dimana fungsi peserta didik melihat situasi ini? kenyataannya adalah peserta didik hanya menjadi penonton setia atas fenomena yang terjadi. ini semua tak lepas dari bentuk teori yang diterapkan pada sistem pendidikan yang terpisah dengan realitas.
Dunia pendidikan saat ini memakai pandangan tradisional konservatif. Bahwa  secara tradisional pendidikan harus bersendikan nilai-nilai yang di junjung tinggi sekaligus teruji oleh waktu pandangan ini disebut esensialisme. Pendidikan harus berupaya mengembangkan akal budi manusia semaksimal mungkin karenanya pendidikan harus berpusat pada pendidik pandangan ini di sebut perenialisme. kedua pandangan tersebut merupakan bagian dari teori tradisional konservatif yang menekankan bahwa pendidikan harus memandang manusia menjadi mahluk budaya sehingga keberadaan manusia dianggap memiliki peranan sebagai penghayat, pelaksana, pengembang kehidupan, dan pendidik sebagai subyek pembawa nilai dan norma budaya menduduki posisi sentral dalam proses pendidikan (barnadid 1996). pandangan tentang pendidikan semacam ini pada praktiknya cendrung bersifat otoriter dan menghalangin peserta didik untuk berkembang dan kritis melihat situasi masyarakat di sekitar. Proses pendidikan menjadi aktivitas menundukan peserta didik.

Pendidikan Kritis. Mungkinkah Ada?

Menurut lenin bahwa "kita tak dapat mempercayai pengajaran, pelatihan dan pendidikan apabila mereka membatasi hanya pada ruang sekolah dan dipisahkan dari proses kehidupan” Telah dibuktikan sepanjang sejarah peradaban manusia bahwa pendidikan memegang peranan penting untuk memajukan kesadaran masyarakat serta merevolusionerkan teknologi demi kesejahteraan rakyat. Tetapi ketika pendidikan dijadikan alat untuk mempermulus akumulasi modal dalam sistem kapitalisme maka sejak saat itulah anak didik menjadi bahan bakar untuk mengepulkan asap modal kapitalisme.

Paulo freire menegaskan bahwa pendidikan adalah alat perlawanan! karena hakikat pendidikan ialah membebaskan manusia. Pendidikan harus mengambil posisi kritis terhadap tatanan sosial yang tak berkeadilan. aliran progesivisme  pada prinsipnya meletakan kebebabasan sebagi motif utama pengembangan kebudayaan. Garis besarnya adalah pendidikan harus bersifat toleransi, keterbukaan , rasa ingin tahu, mengembangkan pengalaman, dan anak didik adalah subjek yang memiliki kemampuan menghadapi realitas. Metode pendidikannya mengandalkan dialog yang kritis dan progresif. keterlibatan secara terus menerus dari realitas memunculkan sikap kritis peserta didik.

Kuba minsalnya salah satu negara yang menasionalisasi semua sekolah dibawah kontrol pemerintahnya dan memastikan semua rakyat mendapatkan hak pendidikannya. Keberhasilan menghapuskan buta huruf rakyatnya dengan menggunakan metode “Yo Si Puedo” (yes i can) metode ini sudah diadposi lebih dari 30 negara untuk memberantas buta huruf. Pendidikannya gratis hingga perlengkapan peserta didik di gratiskan seperti buku, pensil, pulpen dll.  Tenaga pendidik sanggat banyak setiap 20 murid SD dilayani 1 tenaga pendidik. 15 siswa SMP dilayani 1 tenaga pendidik. Sejak SD peserta didik diberikan waktu untuk berorganisasi dan menyatakan pendapatnya seperti organisasi Pioners untuk SD, Federasi Sekolah Menengah dan Tinggi. Negara kuba berani memotong anggaran militer untuk anggaran pendidikan. Sejak tahun 2000 Kuba menjalankan program “universitas Untuk Semua Orang” menyelenggarakan program pendidikan melalui siaran televisi. Dan masih banyak lagi fakta keberhasilan pendidikan di kuba.

Kita organisasi mahasiswa harus lebih giat lagi melakukan investigasi ke realitas masyarakat mengetahui problem rakyat dan memberi kesadaran rakyat betapa penting nya melakukan perlawanan atas penindasan. Tak bisa dipungkirin kita tak bisa berbuat banyak apabila suprastruktur  negara masih di kuasai oleh elit - elit borjuis yang menjadi boneka kapitalisme. Sebab sampe kucing bertanduk pun elit – elit borjuasi dan partai busuk tetap lah menjadi boneka kapitalisme.  sehingga kemenangan rakyat menjadi keniscayaan ketika rakyat membangun gerakan dan mempersatukan gerakannya merobohkan pemerintahan agen imperialisme. Sehingga cita – cita sistem pendidikan yang kritis menjadi kenyataan di
 Indonesia.



Saturday, December 13, 2014

Pendidikan yang Masih Berbanding Lurus dengan Kemiskinan di Indonesia



Di Indonesia memang pendidikan telah demikian gencar diselenggarakan, namun, beriringan dengannya ternyata ilmu yang diperoleh darinya belum dapat mengatasi kemiskinan, terutama di daerah-daerah pedesaan yang tergolong pinggiran atau pelosok. Hal demikian, sayang, banyak terjadi kepada kalangan pelajar yang telah mengenyam dunia pendidikan lama. Mesk   tidak sedikit juga dari mereka yang sudah berhasil.

Dan dikhawatirkan, keadaan tersebut masih akan terus berlanjut entah sampai kapan, seandainya tidak ada langkah pencegahan supaya menghindarkan generasi dari keterpurukan.
Hal ini tentu saja menjadi salah satu perhatian serius yang harus segera terjawab, penting, karena Indonesia masuk pada negara sedang berkembang di saat teknologi semakin canggih, sehingga harus mampu menyejajarkan bangsanya agar tidak tertinggal dengan negara lainnya. Masalah yang begitu vital sehingga membutuhkan penanganan lebih dari semua lapisan, utamanya dari pemerintah selaku pemegang dan pengendali kekuasaan.
Oleh karena dengan adanya penjabaran di atas maka perlu sekiranya kita menanyakan, bagaimana pendidikan di Indonesia ini bisa mengubah keadaan yang terpuruk menjadi sejahtera? Mengapa pendidikan berbanding lurus dengan angka kemiskinan di negara ini?
Diperlukan penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah, untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, dengannya diharapkan mendapat fakta baru, atau mampu melakukan penafsiran yang lebih baik terhadap permasalahan yang sedang terjadi, dalam hal ini yang sesuai dengan tema pendidikan dan kemiskinan.
Pendidikan dan kemiskinan memang dua hal saling terkait, akar dari permasalahan sosial. Dari dua tema penting tersebut lahir banyak pembahasan mengenai kasus-kasus sosial yang ada, seperti degradasi moral penyebab tindak kriminal. Berbagai bentuk kejahatan bermunculan, mulai dari anak-anak hingga dewasa bahkan orang tua. Semakin waktu seolah semakin nyata. Dalam banyak pembahasan, sikap kriminalitas bisa atau malah terjadi dikarenakan kemiskinan. Tentu tidak dapat disalahkan adanya pernyataan di atas, kebenarannya pasti. Dari bukti-bukti, faktor ekonomi berpengaruh besar pada tingkat tindakan seseorang untuk berbuat adil atau tidak. Terjepitnya ekonomi seseorang lebih banyak mendorong dirinya berlaku memaksa dan terpaksa, menyebabkan dirinya terperosok jatuh.
Pencurian, perampokan, dan kejahatan-kejahatan lainnya merebak begitu cepat dan liar. Kenapa justru di Indonesia, yang berbudaya, semua itu tumbuh subur? Mengapa tidak sejalan? Pendidikan belum benar-benar mampu mengatasinya. Adakah yang salah dengannya?
Banyak orang mencari jawaban dan berusaha mengungkapkan permasalahan yang ada, meski itu belum cukup membuat perubahan yang besar dalam dunia ajar-belajar. Rata-rata, mereka memberikan jawaban yang jelas namun masih sulit diterangkan terperinci. Pendidikan, bagi masyarakat pada umumnya masih jauh dari standar kualitas yang seharusnya dikelolakan. Ditambah antusiasme warga untuk mendapatkan pembelajaran masih kurang, kalah jauh, dibandingkan dengan negara-negara sedang berkembang yang mulai menunjukkan kebangkitan. Bisa kita lihat dan teliti, bahwa sebagian besar remaja di Indonesia belum benar-benar peduli, kepada betapa pendidikan sangat penting.
Juga, metode-metode belajar yang terkesan monoton bisa membuat area jenuh dan pasif, sistem pendidikan yang kacau disebabkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab, pemimpin-pemimpin yang berbuat seenak dirinya sendiri demi kepentingan pribadi.
Sekiranya diperlukan bagi kita suatu koreksi yang baik, tidak hanya pada pemerintah, tetapi juga semua kalangan. Tua muda, atas maupun bawah. Kita telah mengetahui keyakinan, seandainya bersama kita padu, sama-sama bekerja keras, saling memberi dorongan dan arahan, niscaya kesejahteraan dapat kita bangun khususnya melalui pendidikan. Dengan demikian, kebodohan akan sirna, pun kemiskinan akan berkurang bahkan tidak ada. Kita berharap besar, semoga upaya kita berbuah manis dan terwujud sesuai dengan cita-cita bersama.