Di Indonesia memang pendidikan telah
demikian gencar diselenggarakan, namun, beriringan dengannya ternyata ilmu yang
diperoleh darinya belum dapat mengatasi kemiskinan, terutama di daerah-daerah
pedesaan yang tergolong pinggiran atau pelosok. Hal demikian, sayang, banyak
terjadi kepada kalangan pelajar yang telah mengenyam dunia pendidikan lama.
Mesk tidak sedikit juga dari mereka yang sudah berhasil.
Dan dikhawatirkan, keadaan tersebut
masih akan terus berlanjut entah sampai kapan, seandainya tidak ada langkah
pencegahan supaya menghindarkan generasi dari keterpurukan.
Hal ini tentu saja menjadi salah
satu perhatian serius yang harus segera terjawab, penting, karena Indonesia
masuk pada negara sedang berkembang di saat teknologi semakin canggih, sehingga
harus mampu menyejajarkan bangsanya agar tidak tertinggal dengan negara
lainnya. Masalah yang begitu vital sehingga
membutuhkan penanganan lebih dari semua lapisan, utamanya dari pemerintah
selaku pemegang dan pengendali kekuasaan.
Oleh karena
dengan adanya penjabaran di atas maka perlu sekiranya kita menanyakan,
bagaimana pendidikan di Indonesia ini bisa mengubah keadaan yang terpuruk
menjadi sejahtera? Mengapa pendidikan berbanding lurus dengan angka kemiskinan
di negara ini?
Diperlukan penyelidikan (penelitian)
suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah, untuk meningkatkan
pengetahuan dan pengertian, dengannya diharapkan mendapat fakta baru, atau
mampu melakukan penafsiran yang lebih baik terhadap permasalahan yang sedang
terjadi, dalam hal ini yang sesuai dengan tema pendidikan dan kemiskinan.
Pendidikan
dan kemiskinan memang dua hal saling terkait, akar dari permasalahan sosial.
Dari dua tema penting tersebut lahir banyak pembahasan mengenai kasus-kasus
sosial yang ada, seperti degradasi moral penyebab tindak kriminal. Berbagai
bentuk kejahatan bermunculan, mulai dari anak-anak hingga dewasa bahkan orang
tua. Semakin waktu seolah semakin nyata. Dalam banyak pembahasan, sikap
kriminalitas bisa atau malah terjadi dikarenakan kemiskinan. Tentu tidak dapat
disalahkan adanya pernyataan di atas, kebenarannya pasti. Dari bukti-bukti,
faktor ekonomi berpengaruh besar pada tingkat tindakan seseorang untuk berbuat
adil atau tidak. Terjepitnya ekonomi seseorang lebih banyak mendorong dirinya
berlaku memaksa dan terpaksa, menyebabkan dirinya terperosok jatuh.
Pencurian,
perampokan, dan kejahatan-kejahatan lainnya merebak begitu cepat dan liar.
Kenapa justru di Indonesia, yang berbudaya, semua itu tumbuh subur? Mengapa
tidak sejalan? Pendidikan belum benar-benar mampu mengatasinya. Adakah yang
salah dengannya?
Banyak orang
mencari jawaban dan berusaha mengungkapkan permasalahan yang ada, meski itu
belum cukup membuat perubahan yang besar dalam dunia ajar-belajar. Rata-rata,
mereka memberikan jawaban yang jelas namun masih sulit diterangkan terperinci.
Pendidikan, bagi masyarakat pada umumnya masih jauh dari standar kualitas yang
seharusnya dikelolakan. Ditambah antusiasme warga untuk mendapatkan
pembelajaran masih kurang, kalah jauh, dibandingkan dengan negara-negara sedang
berkembang yang mulai menunjukkan kebangkitan. Bisa kita lihat dan teliti,
bahwa sebagian besar remaja di Indonesia belum benar-benar peduli, kepada
betapa pendidikan sangat penting.
Juga,
metode-metode belajar yang terkesan monoton bisa membuat area jenuh dan pasif,
sistem pendidikan yang kacau disebabkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab,
pemimpin-pemimpin yang berbuat seenak dirinya sendiri demi kepentingan pribadi.
Sekiranya diperlukan bagi kita suatu
koreksi yang baik, tidak hanya pada pemerintah, tetapi juga semua kalangan. Tua
muda, atas maupun bawah. Kita telah mengetahui keyakinan, seandainya bersama
kita padu, sama-sama bekerja keras, saling memberi dorongan dan arahan, niscaya
kesejahteraan dapat kita bangun khususnya melalui pendidikan. Dengan
demikian, kebodohan akan sirna, pun kemiskinan akan berkurang bahkan tidak ada.
Kita berharap besar, semoga upaya kita berbuah manis dan terwujud sesuai dengan
cita-cita bersama.
No comments:
Post a Comment